Overseas Training E. Learning
Kyoto, 24 Oktober -2 November 2010

1. Topik Pelatihan

Pelatihan yang berlangsung selama 4 (empat) hari tersebut sesungguhnya belum cukup karena masih banyak hal dan materi yang sangat kami perlukan sebagai bekal untuk pengembangan pemanfaatan ICT dalam pembelajaran ketika tiba di tanah air yang belum kami peroleh. Namun demikian, kami mencoba merangkum apa yang sudah disampaikan oleh narasumber dari Prefekture Kyoto, Kyoto Prefekture IT Education Center, SD Hashimoto dan SMP Otokoyama dan Universitas Otemae sebagai pengembang e. Learning di Kobe. Mengenai materi pelatihan akan kami uraikan dalam subbab-subbab berikut.
A. Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran
Perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi di Negeri Sakura itu sangat pesat. Dalam dunia pendidikan pun mendapat perhatian dan dukungan luar biasa dari pemerintah khususnya di Prefekture Kyoto. Setiap sekolah di Kyoto diberikan fasilitas komputer untuk pembelajaran, papan tulis magnetik dan elektronik serta jaringan intra maupun internet yang saling terkoneksi antar sekolah. Fasilitas sekolah tersebut dibiayai oleh pemerintah sepenuhnya. Pemanfaatan ICT dalam pendidikan di Kyoto antara lain untuk keperluan administrasi guru dan sekolah, komunikasi antar guru dan pembelajaran.

B. Pengetahuan tentang e-Learning untuk pendidikan

E. Learning atau pembelajaran secara elektronik saat ini menjadi hal baru yang dikembangkan dalam dunia pendidikan. Tersedianya fasilitas yang memadai dan sumber daya manusia handal menempatkan Jepang menjadi urutan pertama dalam pengembangan e. Learning. Proyek e-learning di Universitas Otemay merupakan salah satu contoh penerapan e-learning dalam dunia pendidikan di Jepang. Dalam e-learning ini, mahasiswa bisa mengakses materi kuliah dari rumah. Data jumlah peserta e-learning meningkat dari tahun 2008 sampai 2010. Mata kuliah yang disajikan dengan e-learning meningkat jumlahnya menjadi 9 mata kuliah. Universitas Otemay bekerjasama dengan DES (Digital Educational Support) dalam mengembangkan pembelajaran e-learning. Contoh-contoh Proyek e-learning:
– Proyek Pendidikan Sekolah ( diterapkan oleh Dinas Pendidikan)
– E-learning di sekolah : pembuatan materi pembelajaran dengan power point dengan menggunakan komputer yang dilengkapi kamera, merekam secara langsung kegiatan kelas kemudian hasil rekaman didistribusikan, dll)

C. Sistem dan kebijakan sekolah SD/SMP di Kyoto Jepang

Secara umum sistem pendididikan di Jepang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Jenjang SD selama 6 tahun, Jenjang SMP ditempuh selama 3 tahun dan SMU juga 3 tahun. Selanjutnya mereka melanjutkan ke perguruan tinggi. Ketika di Prefekture Kyoto, rombongan kami diberi kesempatan mengunjungi sebuah SD dan SMP, yaitu SD Hashimoto dan SMP Otokoyama. Keduanya berada di Kota Yawata Kyoto Jepang.
a. SD Hashimoto
SD Hashimoto berada di Kota Yawata, tidak jauh dari SMP Otokoyama. Tepatnya beralamat di 15 Hashimoto Nakano Ikejiri, Yawata-shi, Kyoto. Sekolah ini melayani sekitar 600 siswa dari Kelas 1 sampai kelas 6. Gedung dan fasilitasnya cukup memadai. Bahkan kami mendengar bahwa di Jepang bangunan sekolah merupakan bangunan yang kualitas konstruksinya sangat diperhatikan mengingat Jepang merupakan negara dengan rekor gempa paling tinggi. Fasilitas penunjang pembelajaran antara lain di setiap kelas dilengkapi dengan laptop, desktop komputer, TV digital, fasilitas internet, dan kamera video. Tiap Guru difasilitasi dengan 1 komputer. Semua komputer tersambung dengan jaringan internet (internet intra dan internet umum). Setiap sekolah dilengkapi dengan 1 ruang komputer dengan 40 unit komputer di dalamnya dan sebuah papan tulis elektronik. Dengan papan tulis elektronik guru lebih mudah menyampaikan materi karena materi sudah terdapat di papan tulis. Selain itu papan tulis juga bisa digunakan untuk presentasi siswa di depan kelas. Hal yang menarik selain fasilitas ICT adalah kebiasaan membersihkan kelas usai pembelajaran terakhir. Semua anak membawa kain kecil untuk mengepel lantai dan secara bersama-sama membersihkan kelas. Selain itu kami juga sempat dijamu makan siang dengan menu yang sama dengan makanan anak-anak Hashimoto. Sekolah tersebut menyediakan makan siang untuk anak-anak.

b. SMP Otokoyama Higashi
SMP Otokoyama Higashi beralamat di 1–1 Uchizato Sunahata, Yawata-shi, Kyoto. Gedung dan fasilitas di sekolah ini juga cukup memadai. Sekolah ini merupakan sekolah pertama yang kami kunjungi. Hal ini untuk mengetahui secara langsung pemanfaatan ”DS” sebagai sarana belajar bahasa Inggris. Semua siswa wajib melakukannya dengan waktu 10 menit setiap pagi. Tahun sebelumnya latihan dengan DS ini dilaksanakan dari Senin – Jumat, tetapi tahun ini DS digunakan 3 hari, yang 2 hari menggunakan dokumen kertas. Kami juga diberi kesempatan mencoba alat tersebut.
Software dalam DS dilengkapi dengan 1800 kosa kata pada tahun 2009. Mulai tahun 2010 software yang digunakan adalah new horizon yang meliputi latihan kosa kata, kalimat, percakapan, mendengarkan dengan system soal Pilihan Ganda. Tahun 2009 dan 2010 penelitian tentang dampak penggunaan DS dilaksanakan. Hasil survey menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. siswa lebih asik belajar bila menggunakan DS
b. jumlah penguasaan kosa kata siswa meningkat
c. 70 % siswa mendapatkan efek positif dari DS
d. hasil belajar siswa meningkat

D. Budaya, sikap/kebiasan dan gaya hidup orang Jepang

Secara geografis dan astromis Jepang berada pada daerah yang beriklim subtropis dan mempunyai empat musim yaitu panas, gugur, dingin dan semi. Keadaan ini sangat berpengaruh pada cara berpakaian, pemilihan makanan dan pola hidup sehari-hari. Sebagai contoh: apabila musim dingin sudah tiba, orang-orang mulai memakai pakaian tebal/ baju hangat, demikian pula sebaliknya, apabila musim panas tiba, mereka akan memakai pakaian musim panas yang tipis dan tidak terlalu panas.
Mayoritas masyarakat Jepang menganut kepercayaan “Shinto” yang dibawa oleh Sang Budha/Sidharta Gautama.. Mereka beribadah di kuil/klenteng. Banyak klenteng di Jepang digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus sebagai tempat wisata. Prefekture Kyoto adalah kota dengan 1000 kuil.
Kuliner Jepang didominasi oleh ikan, daging, sayur-sayuran segar. Dalam menyajikan masakan mereka selalu mempertimbangkan segi manfaat bahan tersebut. Padi (beras) di Jepang agak berbeda dengan padi di Indonesia. Guna memproteksi petani, pemerintah membeli seluruh hasil panen petani dan menjual kembali dengan harga yang tinggi. Panen padi di Jepang dilakukan setahun sekali. Rombongan kami berkesempatan mencicipi ikan mentah yang langsung di makan.
Pemerintah Jepang menerapkan 5 hari kerja, termasuk sekolah, sementara hari Sabtu dan Minggu dimanfaatkan untuk akhir pekan bersama keluarga. Pada akhir minggu biasanya orang-orang menghabiskan waktu di tempat-tempat wisata. Pendapatan perkapita penduduk termasuk tinggi sehingga mempengaruhi pola konsumtif masyarakat. Mereka membelanjakan uang untuk pakaian, makanan, dan hiburan.
Kedisiplinan masyarakat Jepang patut diacungi jempol. Budaya antre menjadi pemandangan yang menarik. Suatu malam sepulang pelatihan kami melihat antrian panjang orang yang ternyata mereka antre untuk mendapat giliran naik bus untuk pulang. Hal lain dalam displin lalu lintas. Di setiap traffic-light semua pengemudi kendaraan dan pejalan kaki mematuhi lampu lalu lintas yang ada. Jarang ditemui seorang polisi menjaga traffic-light. Selain itu disiplin menjaga kebersihan juga tinggi. Kota Osaka sebagai tempat kami menginap juga tampak asri, bersih dan rapi.

2. Penyedia/Tempat Pelatihan

A. Kyoto Prefecture Government Office, Kyoto

Kami tiba di Kansai Airport Osaka pada hari Senin, 25 Oktober 2010 pukul 7.00 waktu setempat setelah melalui penerbangan selama 5 jam dari Suvarnabhumi Airport Kota Bangkok Thailand. Selama di Osaka kami menginap di Hotel Dai-Ichi Kota Osaka. Sehari kemudian, Selasa tanggal 26 Oktober 2010 jam 15.30 waktu setempat, peserta pelatihan diterima di Kantor Pemerintahan Kyoto Perfecture yang beralamat di Yabunouchi-cho, Nishiiru, Shinmachi, Shimodachiuri-dori, Kamigyo-ku, Kyoto-shi. Peserta dan pendamping beramahtamah dengan pejabat di bidang pendidikan setempat dengan dijamu ‘teh’ hangat. Mr. Kirimura sebagai Direktur Divisi Hubungan Internasional menyatakan bahwa belum lama ini juga berkunjung ke Yogyakarta untuk memperingati hubungan kerjasama sebagai sister-province sejak 25 tahun lalu. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit.

B. Kyoto Prefecture IT Education Center, Kyoto

Pelatihan di IT Education Center Kyoto dilakukan 2 kali yaitu tanggal 27 Oktober 2010 dan tanggal 29 Oktober 2010. Pelatihan ini bertempat di ITEC yang beralamat di Momoyama Mori Nagato, Nishimachi, Fushimi-ku, Kyoto-shi. Fasilitas pelatihan sangat lengkap dan memadai. Satu orang memegang satu laptop. Selama di ITEC Kyoto kami mendapatkan banyak informasi tentang pemanfaatan ICT untuk pendidikan dan pemerintahan di Jepang. Jika dibandingkan dengan Indonesia dari sisi SDM tidak begitu jauh. Sehingga kami mempunyai optimisme jika dilaksanakan di Indonesia pun dapat berjalan.

C. Otokoyama Higashi Junior School, Yawata City

Sekolah Menengah Pertama Otokoyama Higashi beralamat di 1–1 Uchizato sunahata, Yawata-shi, Kyoto. Di sekolah ini peserta pelatihan diberi kesempatan ntuk melihat proses pembelajaran bahasa Inggris menggunakan alat DS.

D. Hashimoto Elementary School, Yawata City

Sekolah Dasar Hashimoto beralamat di 15 Hashimoto nakano ikejiri, Yawata-shi, Kyoto. Di sekoah ini peserta berkesempatan melihat pembelajaran computer, kegiatan makan bersama dan kegiatan membersihkan lingkungan sekolah oleh siswa. Rombongan kami sempat menikmati makan siang bersama deengan menu yang sama dengan anak-anak.

E. Otemae University/Digital Knowledge Corp. (e-learning system), Kobe/Osaka

Kunjungan ke Universitas Otemay dilaksanakan hari Senin, 1 November 2010 jam 13.00 waktu setempat. Di tempat ini peserta diperkenalkan dengan pembelajaran berbasis e-learning. Universitas ini juga dilengkapi dengan studio yang digunakan untuk membuat materi pembelajaran. Jumlah studio hanya 1 tetapi terdiri dari 3 ruang yang berbeda. Fasilitas seperti ini yang belum dimiliki di Yogyakarta. Seorang guru dapat membuat bahan pembelajaran bahkan merekam presentasi yang kemudian di upload ke e. Learning. Sehingga siswa dapat mengakses dari mana saja.

3. Pelajaran yang bisa diambil untuk Provinsi DIY

Jepang merupakan negara maju dalam bidang tehnologi dan pendidikan. Perkembangan tehnologinya sangat mendukung kemajuan pendidikan di negara ini. Banyak hal yang bisa dicontoh untuk diterapkan di propinsi DIY, antara lain:
A. Di Bidang Pendidikan
a. Penggunaan alat DS untuk pembelajaran Bahasa Inggris
b. Penyediaan sebuah papan tulis elektronik untuk 1 sekolah
c. Konstruksi bangunan sekolah yang berkualitas mengingat Yogyakarta berada
kawasan rawan bencana gempa bumi

B. Di Bidang Tehnologi
Dari sisi teknologi memang kita tertinggal cukup jauh. Penguasaan tehnologi yang berkembang pesat di Jepang menjadikan Jepang sebagai negara maju yang mandiri. Meskipun Jepang hanya memiliki wilayah yang sempit, tetapi kemajuan tehnologinya mampu menciptakan kota dan bandara di atas laut dengan reklamasi. Misalnya Kansai International Airport yang dibangun beberapa kilo dari daratan berdiri megah di laut. Untuk menuju kota Osaka dihubungkan oleh jembatan besi dengan tehnik arsitektur luar biasa. Bahkan bahan untuk mereklamasi tersebut berasal dari sampah plastik yang di daur ulang. Tujuan pembengunan bandara di laut ini agar masyarakat Osaka tidak terganggu dengan desingan mesin pesawat baik siang maupun malam.

C. Di Bidang Budaya
Masyarakat Jepang sangat menghargai budayanya sendiri, mereka sangat antusias mendatangi museum dan tempat bersejarah. Tipe pekerja keras tampak dengan cara mereka berjalan dan bersikap. Salah satu yang menarik adalah ketika melayani pembeli, para pedagang dengan santun menyodorkan kotak kecil seperti nampan untuk menerima uang pembelian sembari menundukkan kepala dan senyum ramah. Gaya hidup dengan disiplin yang tinggi tersebut patut kita jadikan teladan.